Kisah Sukses Ongky, dari Sablon Hingga Bisnis Konveksi

KEGEMARANNYA membuat desain sablon membawa pria ini menjadi seorang pengusaha muda. Bermodal seperangkat komputer dan meja kayu, kini Ongky Christianto (26) telah sukses membangun usaha konveksi dan distro yang telah dirintisnya sejak tiga tahun lalu. Melalui desain kaos karyanya, Ongky ingin mengenalkan Yogya dengan cara cerdas dan yang berbeda.

Sejak remaja pemuda asli Yogya ini memiliki minat dalam seni desain grafis. Memanfaatkan komputer yang ada di rumahnya, Ongky gemar membuat rancangan gambar dengan gaya kekinian ala anak muda.

Awalnya gambar-gambar hasil karyanya itu hanya ia koleksi sendiri hingga memenuhi hardisk komputer miliknya. Ongky remaja saat itu belum terpikirkan untuk memanfaatkan kelebihannya itu sebagai sebuah peluang usaha.

Hingga akhirnya saat Ongky beranjak dewasa dan menuntut ilmu di SMA Kolese De Britto Yogyakarta pada tahun 2010, ia baru menyadari jika kererampilannya itu sangat bermanfaat. Hidup di lingkungan pelajar-pelajar yang kreatif, Ongky merasa tertantang untuk menciptakan peluang usaha dari keterampilannya yang dimilikinya itu.

“Awalnya saya menawarkan hasil karya desain kepada teman-teman dari kelas ke kelas. Beberapa desain berupa printout saya bawa untuk diperlihatkan kepada teman-teman. Bagi yang tertarik mereka nantinya bisa memesan kaos melalui saya,” ungkap Ongky di tempat usahanya kawasan Nogotirto Gamping Sleman.

Sadar tidak memiliki modal banyak saat itu, Ongky tak mampu memproduksi sendiri kaos-kaos pesanan teman-temannya tersebut. Ia hanya bisa sebatas membuat desain sablon lalu untuk selanjutnya pengerjaan cetak dan pembuatan kaos masih ia lempar ke salah satu konveksi yang terletak di bilangan Jombor Sleman.

Untuk satu kaos kala itu Ongky memasang harga Rp 55.000. Harga tersebut nantinya dipotong untuk biaya produksi kaos dan sablon di konveksi sebesar Rp 40.000. Jadi dari satu kaos uang dijualnya ia hanya mendapat untung Rp 15.000.

Bisnis kecil-kecilan itu terus Ongky jalankan. Untuk menarik minat teman-temannya, tiap empat bulan sekali Ongky selalu meluncurkan desain baru. Bila ada momen-momen tertentu seperti Valentine, 17 Agustus ataupun peringatan lainnya Ongky tek ketinggalan menawarkan gambar dengan desain tersebut.

Konsumennya kian hari terus bertambah, beberapa pelajar sekolah tersebut mulai banyak tertarik dengan kaos yang ditawarkan Ongky. Dari mulut ke mulut akhirnya produk kaos yang saat itu belum memiliki brand itu perlahan mulai dikenal dan merambah segmen pasar di luar sekolah tempatnya menuntut ilmu.

“Mereka membantu memasarkan dan mempromosikan produk saya itu kepada teman-temannya. Jadi setiap teman di luar sekolah ada yang berminat atau ada even, saya selalu diminta untuk membuat kaosnya,” ujar ayah satu seorang anak ini.

Namun usaha Ongky sempat kendor saat ia lulus SMA dan mulai menginjak bangku perkuliahan. Kesibukannya sebagai mahasiswa di Fakultas Manajemen Universitas Atmajaya Yogyakarta membuat Ongky kualahan membagi waktu antara studi dan usahanya mendesain kaos.

Sempat setahun vakum akhirnya Ongky kembali lagi menjalankan bisnisnya. Kali ini Ongky bangkit dengan terobosan baru dalam usahanya itu. Jika sebelumnya penyablonan ia lempar ke tempat konveksi, namun kini untuk pencetakan desain gambar tersebut Ongky melakukannya sendiri.

Keterampilan menyablon diperoleh Ongky secara otodidak dengan belajar melalui YouTube. Walau sempat menemui kesulitan terutama saat membuat ‘film’ pada ‘screen’ maupun ketika proses penggosokan tinta sablon menggunakan ‘rakel’, namun dengan usaha yang gigih akhirnya Ongky dapat menguasai semua itu.

Tahun 2016 menjadi masa bersejarah bagi Ongky. Pada tahun tersebut Ongky resmi mendirikan usaha konveksi dimana untuk penjahitan kaos dan sablon ia tangani sendiri. Dengan mempekerjakan sebanyak 10 orang, usaha bisnis konveksi tersebut diberinya nama Raden Kaos Sablon.

“Kalau masih melempar ke pihak lain, kita kadang tidak bisa menjanjikan kapan selesainya karena menunggu antrean. Berbeda jika bisa memproduksi sendiri, kita bisa memastikan kepada konsumen pesanan jadinya kapan,” jelasnya.

Dari yang sebelumnya hanya menerima pesanan kaos, kini Ongky bisa memproduksi sendiri jaket, wangki hingga hoodie zipper. Untuk menjaring konsumen, Ongky memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook dan Instagram untuk media promosinya.

Pesanan yang datang tak hanya dari lokal Yogya saja, beberapa perusahaan nasional bahkan luar pulau menjadi kustomer Ongky. Bahkan produksi Ongky ini juga dipercaya sebagai official merch dari tim sepak bola PSIM Yogyakarta.

Pengusaha muda ini terus melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka outlet di bilangan Tugu Yogya yang diberi nama Distro Ndalem. Di tempat ini kaos-kaos bernuansa Yogya ia pamerkan untuk dijual bagi kalangan anak muda maupun siapa saja yang selalu merindukan Kota Gudeg ini.

Berbeda kaos-kaos bertemakan Yogya, Ongky tak mau begitu menonjolkan nama kota maupun ikon-ikon kondang yang ada. Ia justru mengemas tema desain dengan konsep lain agar orang bisa melihat Yogya dengan cara yang cerdas.

“Menyampaikan keindahan Yogya dalam sebuah kaos tak selamanya harus dengan tulisan maupun obyek wisata yang ada. Yogya bisa disampaikan dengan cara minimalis, misal siluet Tugu atau hal-hal kecil yang dalam suatu gambar tidak begitu diperhatikan. Dengan seperti itu justru orang akan mencari dimana letak Yogya dalam kaos tersebut,” jelas Ongky.

Ongky optimis bisnis konveksi yang digelutinya itu akan mampu bertahan ditengah banyaknya usaha serupa. Baginya tak ada hasil manis yang akan diperoleh tanpa adanya usaha dan perjuangan keras.

"Bisnis konveksi sampai kedepan masih bagus karena sandang, pangan dan papan merupakan kebutuhan pokok manusia. Selama manusia masih memerlukan sandang, maka usaha konveksi akan tetap hidup,” ujarnya. (Van)

Translate »