Wenart Gunadi, Jagoan Bisnis Game

Sejak kecil, kita sudah akrab dengan camilan atau jajanan tradisional. Bagaimana jika jajanan tersebut dikemas dan dikenalkan dengan cara yang lebih kreatif. Sang eksekutor tersebut adalah Wenart Gunadi atau akrab disapa Wen. Ia adalah seorang ilustrator yang sukses membesarkan Deviant Art. Bisnis kreatif yang ditekuninya ini dimulai sejak tahun 2007. Ia pun mendirikan sebuah studio produksi game yang bernama Small Farm di Surabaya untuk menyalurkan kemampuan desainnya tersebut.

Wenart Gunadi, Jagoan Bisnis Game

Ia menjelaskan, ilustrasi tersebut dibuat untuk sebuah game bernama Jemil Kingdom . Games berbasis Android ini diciptakannya sejak Agustus 2015. Ia membuat sebuah konsep, yaitu permainan ketangkasan. Menurutnya, permainan tersebut dibuat untuk mengenalkan dan melestarikan kembali kuliner Indonesia. Melalui games tersebut, ia mengajak user untuk memasangkan jajanan pasar, tingkat kesulitannya bertahap sampai level 50.

Memiliki background pendidikan Desain Komunikasi Visual, ia banyak belajar mengenai industri kreatif ini. Hal ini pun didorong rasa ketertarikannya sejak kecil terhadap dunia visual. “Bermula dari hobi, dan kemudian beralih menjadi sumber nafkah, pada awalnya sifatnya hanya coba-coba, mulai dari kenalan ke kenalan, namun pada akhirnya bertambah ramai, dan akhirnya mulai ditekuni,” ujarnya.

Ia menceritakan bagaimana proses melahirkan karya-karyanya apiknya. Dimulai dengan proses brainstorming untuk menentukan konsep dan eksekusi, di sini semua step direncanakan. Kemudian dilanjutkan dengan sketsa-sketsa untuk menjelaskan ide tersebut kepada klien.

Pada saat itu klien mungkin memilah-milah atau memberi revisi sampai akhirnya dipilih satu ide yang paling cocok. Kemudian dibuatlah ilustrasi tersebut, proses bisa memakan beberapa hari dan ia sebagai penyedia jasa biasanya mengirim update tiap harinya ke klien sekaligus meminta masukan ide dari klien sebagai bahan revisi, sampai akhirnya jadilah illustrasi finalnya untuk dikirimkan ke klien.

Sebagian besar tantangannya adalah memahami keinginan klien karena ketika berbicara mengenai imajinasi itu sangat luas variasi dan kemungkinannya, jadi ia dituntut untuk bisa membaca pikiran klien dari briefing yang ada. Solusinya ada di komunikasi yang baik antara klien dan penyedia jasa.

“Kebetulan saya menguasai beberapa gaya menggambar dan jenis-jenis ilustrasi, jadi klien biasanya sering ada yang repeat order karena membutuhkan illustrasi dalam gaya lain, terutama yang berhubungan dengan produk yang produksi masal seperti buku, kaos, dan sebagainya dimana tidak bisa terpaku dengan satu gaya saja. Saat itu modal saya hanya satu set komputer. Mengerjakannya pun dengan sewa tempat di kantor atau di rumah,” ungkap pria lulusan Universitas Kristen Petra, Surabaya.

Saat ini pemasaran karya-karya dari studio kreatifnya sebagian besar melalui media online, mengingat target pasar adalah klien di luar negeri, sehingga tidak memungkinkan untuk berkunjung ke tiap negara.
Pada awalnya, perkembangan berjalan pelan karena tidak banyak yang mengetahui jasanya. Tetapi dengan promosi yang terus menerus namun pada akhirnya bisa berkembang. Saat ini jumlah likes pada laman sosial media Jemil Kingdom mencapai lebih dari 8 ribu lebih likes.

Translate »