Tips ‘Melompat’ dari Karyawan Jadi Wirausahawan

Dari karyawan jadi wirausahawan sukses, mungkin hal ini jadi dambaan banyak orang. Namun seberapa yakin kita meninggalkan zona nyaman? Lalu bagaimana meminimalkan risiko kegagalan?

Bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, yang kita dapat umumnya adalah kestabilan. Tiap bulan kita akan dapat gaji, belum lagi tunjangan, lalu bisa juga menikmati aneka fasilitas kantor, dan lain-lain.

Berbeda dengan dunia bisnis sendiri alias kewirausahaan, yang cenderung identik dengan ketidakpastian. Satu waktu dapat proyek besar, di lain waktu kita menghadapi musim sepi klien dan minim pemasukan.

Namun di balik itu, terjun ke dunia bisnis memang menjanjikan banyak keuntungan. Dari mulai keleluasaan waktu, perasaan kepuasan menjadi bos bagi diri sendiri, kemungkinan pendapatan lebih tinggi daripada jadi karyawan (jika kita bekerja keras, tentunya), dan masih banyak lagi.

Tak heran, tak sedikit karyawan yang mendamba jadi wirausahawan, karena mereka tak ingin selamanya jadi orang gajian. Pertanyaannya, kapankah kita tahu saat yang tepat untuk resign dari kantor, dan membangun bisnis sendiri dari nol? Lalu untuk membangun startup, bagaimana caranya menghindari kegagalan?

Tips ‘Melompat’ dari Karyawan Jadi Wirausahawan

Untuk membahas hal tersebut, Jakarta Founders Institute, lembaga akselerator startup tingkat early-stage Jakarta (berpusat di Amerika Serikat), mengadakan diskusi khusus, yang diadakan di kantor Indosat Ooredoo, Senin (18/7/2016).

Hadir sebagai narasumber dalam sesi berbagi tersebut adalah Natali Adrianto, Co-Founder dan CTO Tiket.com, Novistiar Rustandi, Co-Founder san CEO HarukaEdu, Adrian Gunadi, Co-Founder dan Chairman Investree, dan Andy Zain, Managing Director Mountain Kejora Ventures dan Ideabox.

Mereka berbagi pengalamannya kala awal membangun startup, saat masih karyawan dan akhirnya keluar, lalu menjalankan bisnis yang sudah dibangun, serta tip dan trik melahirkan sekaligus mempertahankan bisnis.

Jiwa wirausaha harus menonjol

Ketiga narasumber masing-masing berbagi kisah, ketika mereka mulai keluar dari zona nyaman, tidak lagi mendapatkan gaji dan tunjangan rutin, sampai pengorbanan untuk mempertahankan usaha yang dirintis.

Bagi Andy, ia percaya bahwa sebenarnyaa setiap orang memiliki bakat-bakat spesial. Sayangnya, bakat-bakat itu tak bisa begitu saja hadir. Bahkan, keinginan membangun usaha tidak cukup.

“Banyak orang ingin memiliki bisnis, namun ‘ingin’ saja tidak cukup, sebab harus sungguh-sungguh diwujudkan, dengan jiwa kuat sebagai wirausahawan,” kata Andy.

Andy menambahkan, karena bisnis itu bukan semata dibangun. Tetapi juga harus dipertahankan, selama waktu-waktu ke depan. “Kalau tidak, akan hidup tiga bulan saja,” ujar Andy.

Andy melihat, selama ini banyak startup yang hidupnya hanya hitungan bulan. Selain kehabisan uang, terkadang itu dikarenakan founder-nya kurang memiliki mental tahan banting wirausahawan.

Di sisi lain, jiwa wirausahawan, yang khas dengan kreatif dan pantang menyerah, bukan hanya murni untuk mereka yang berbisnis, namun juga bisa diterapkan untuk karyawan. Di Jakarta Founders Institute, misalnya, dikembangkan pula serangkaian tes, untuk memilih calon karyawan yang sungguh-sungguh meminati wirausaha.

“Tes yang kami buat untuk karyawan, tujuannya untuk melihat apakah ia dominan sebagai wirausahawan atau pekerja,” tambahnya.

Rela meninggalkan zona nyaman

Kala memutuskan menanggalkan status karyawan, saat yang berat adalah harus melepas kenikmatan dan kemudahan, seperti gaji dan tunjangan setiap bulan, serta aneka fasilitas lain yang memanjakan kita dan keluarga. Hal itu juga diakui oleh Novistiar, yang sebelumnya bekerja sebagai business analyst.

“Dulu kalau bepergian naik pesawat pun pakai business class dan naik mobil. Tapi setelah memiliki bisnis, lebih sering naik ojek online. Memang, kita semua harus keluar dari zona nyaman,” tukas Novistiar.

Setelah berhasil keluar dari zona nyaman, beban lain justru terkadang datang dari keluarga. Oleh karena itu, keputusan pun perlu dipertimbangkan matang-matang, karena salah langkah bisa berakibat fatal.

Adrian memberi tip, kala berniat membuka usaha, dan kita sudah berkeluarga, tak ada salahnya merintis bisnis tersebut kala masih bekerja. “Supaya keuangan keluarga tidak terganggu, dan minimalkan risiko seandainya gagal,” ujar Adrian.

Sadari tanggung jawab yang berbeda

Perubahan status dari karyawan jadi wirausahawan, akan menimbulkan dampak tanggung jawab yang berbeda. Saat menjadi karyawan, tanggung jawab kita terbatas pada pekerjaan kita. Sedangkan hal lainnya sudah diatur dalam sistem.

Namun saat menjadi wirausahawan, mindset tersebut harus diubah. Sebab kita sendiri yang dituntut untuk mengatur banyak hal, dan membuat sistem, dan hal ini butuh waktu dan proses panjang.

“Saat jadi karyawan, kita tidak peduli masalah yang terjadi oleh divisi lain. Berbeda saat kita membangun startup. Di mana kita harus menangani semua masalah, dan menemukan solusinya. Kalau tidak, akan terjadi kekacauan dan bisnis akan berantakan,” tukas Andy.

Tahan banting dan sigap

Menjadi wirausahawan, akan menguji seberapa kuat kita menahan dan menyelesaikan sebuah masalah. Terkadang, banyak kendala terjadi, misalnya kala kita butuh bantuan pendanaan, namun kita mengalami penolakan dari calon investor.

Hal ini mungkin disebabkan, bisnis kita belum dianggap menarik oleh investor. Meski demikian, kita harus tetap mengedepankan kemampuan diri yang ‘tahan banting’, serta sigap dalam melihat celah.

“Ketika membuat Tiket.com, waktu itu masih berbentuk slide presentasi. Namun kami berhasil mendapatkan tiga investor, yang bersedia mendanai Tiket.com,” tukas Natali.

Bangkit dari keterpurukan

Sebagai karyawan, biasanya kita akan mengikuti semua peraturan dan kultur yang ada di perusahaan. Berbeda kala menjalankan usaha sendiri, banyak sekali yang harus kita sendiri pikirkan. Kita juga harus membentuk peraturan dan kultur sendiri.

Bukan tak mungkin, bisnis kita menghadapi kemungkinan ditipu pihak lain. “Waktu membuat bisnis online shop, saya sempat ditipu dan semua sumber dana habis begitu saja. Tapi, saya bangkit lagi, dan membuat bisnis lagi, meski dengan dana terbatas,” ujar Alice Norin, selebriti Indonesia yang juga founder dari ecommerce mode, 8Wood, yang turut hadir dalam sesi diskusi.

Leave a comment

Translate »