Raup Ribuan Dolar dari Aplikasi Game Edukasi

Orang tua yang memiliki anak usia balita sampai 12 tahun, pasti sudah tidak asing dengan ucapan “educa studio, mari berlajar dan bermain”. Ya, kalimat yang selalu keluar ketika membuka game edukasi anak-anak berbasis Android itu sudah begitu familiar di kalangan masyarakat.

Game edukasi mulai dari belajar membaca, mengaji, mengenal huruf hijaiyah, berhitung sampai belajar Salat itu, menjadi salah satu game edukasi yang cukup digemari karena bisa membantu anak-anak balita belajar.

Kini, Game Educa tersebut sudah diunduh jutaan orang dan terdapat lebih dari 200 aplikasi game edukasi yang dikeluarkan.

Siapa sangka, pencipta ratusan game edukasi berbasis Android itu adalah pemuda brilian asal Salatiga, Jawa Tengah bernama Andi Taru Nugroho. Sejak 2012, dia bersama timnya mampu memproduksi sebanyak 200 aplikasi game yang siap diunduh di Android.

Produk game Marbel dan Friend’s diperuntukkan untuk anak usia 6-12 tahun. Pendidikan yang dituangkan lebih memilih konsep belajar menyenangkan.

Andi, yang juga Founder Game Educa mengungkapkan, Educa berdiri 1 April 2012 di kamar rumah yang sempit.

Dia bercerita, inspirasi untuk membuat aplikasi game muncul saat dirinya mengalami keterpurukan. Saat itu, usai menikah perusahaan swasta tempatnya bekerja, mengalami keterpurukan dan memaksanya keluar. Parahnya, pada saat itu istrinya juga keluar dari pekerjaan.

Kondisi itu membuat dia harus memutar otak mencari ide bisnis agar bisa bertahan hidup. Berbekal kemampuannya di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), akhirnya dia berusaha mengotak-atik program menggunakan komputer di kamarnya. “Berangkat dari kondisi itulah, mimpi baru membuat aplikasi game tersebut bermula,” katanya.

Dia mengungkapkan, ide awalnya adalah membuat game edukasi. Waktu itu dia berpikir, dengan membuat game edukasi, akan memberikan manfaat ganda. Pertama bisa bermanfaat untuk masyarakat dan kedua tentunya akan menghasilkan materi.

“Setelah dipikir dan dikonsep secara matang, akhirnya kami mengawali dengan mengajak dua anggota yakni seorang artwork dan game programe. “Awalnya produk pertama adalah aplikasi PC dan belum Android,” tuturnya.

Setelah melalui proses uji coba berkali-kali, akhirnya tim tersebut merilis 10 aplikasi game pendidikan untuk anak usia 2 hingga 12 tahun. Hasilnya cukup menggembirakan, sebab dalam kurun waktu seminggu, aplikasi tersebut di-download oleh 4.000 orang. Namun, saat itu dirinya belum mendapatkan keuntungan karena aplikasi tersebut di-download secara gratis.

Raup Ribuan Dolar dari Aplikasi Game Edukasi

Pada 2012, Android Market masuk Indonesia. Saat itulah, dia pertama kali mengenal pasar Android dan berusaha memasukinya. Tepatnya 21 Oktober 2012, dia mulai melihat adanya keajaiban magic dalam bisnis tersebut. Dia mendapat transfer pertama sebanyak USD100 melalui rekening bank.

Dari situ dia melihat peluang semakin besar. Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman ke bank sebesar Rp600 juta untuk melengkapi peralatan dan kebutuhan dalam pembuatan game. “Kami tagretkan waktu itu tahun 2013 harus bisa menciptakan 100 game dan berhasil,” kenangnya.

Perkembangan pesat itu membuat Andi kian bersemangat untuk membuat target lebih banyak lagi. Dia mengenal Google analytic, aktivitas user, sumber download-nya bagaimana, produk mana yang disukai user, fitur apa yang disukai, per-kota bisa bisa dipantau.

Pria kelahiran Sidorejo Lor RT 8 RW 7 Kecamatan Sido Lor Salatiga, mengakui hingga 2015, Andi memperbanyak tim menjadi 13 orang. Produktivitas tim tersebut ternyata sangat luar biasa. Sebab, selama dalam kurun waktu kurang lebih 4 tahun, tim tersebut mampu menciptakan sebanyak 200 game.

Kini, dia bersama tim tidak hanya memproduksi game edukasi Marbel, namun juga aplikasi lain seperti Kabi (Kisah Nabi), dan Kolak (Koleksi Lagu Anak). Dia juga melibatkan arranger musik khusus lagu anak dari Yogyakarta dan beberapa penulis lagu anak.

“Kami bersama mengetahui lagu anak tidak ada yang baru. Maka kami membikin aplikasi lagu anak yang isinya juga bernilai edukatif,” ujarnya.

Bersama Marbel dan Friend’s, lulusan S2 IT Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga tersebut kini sukses meraup omzet di atas USD5.000 per bulan, dan mampu menggaji 13 karyawan serta membeli sebuah kantor di kawasan Jalan Giling Rejo, Gendongan, Salatiga, Jawa Tengah.

Translate »