Membedah Strategi HappyFresh dalam Membentuk Tim Terbaik

Membedah Strategi HappyFresh dalam Membentuk Tim Terbaik

Pernahkah kamu bermasalah dalam tim pengembangan produkmu?

Pada kenyataannya, kualitas tim turut menentukan alur kerja dalam proses pengembangan produk. Survei CBInsight bahkan menempatkan permasalahan tim sebagai salah satu alasan terbesar atas kegagalan produk pada startup .

Ketika kamu memiliki tim terbaik atau A-team , kinerja tim dalam pengembangan produkmu pun akan semakin lancar. Begitu juga sebaliknya; saat orang-orang dalam tim kamu sulit bekerja sama, berbagai risiko bisa menimpa produk dan perusahaan kamu.

Lalu, bagaimana cara membentuk tim terbaik untuk mengembangkan produk digital? Head of People Care & Talent Acquisitions HappyFresh, Borries Abridita Putra , sempat berbagi tip membentuk tim terbaik di satu sesi Product Development Conference 2018 lalu.

Mau tahu strategi apa yang dapat kamu terapkan dalam tim pengembangan produkmu? Yuk, pelajari insight dari Borries dalam artikel ini!

Kurva belajar S dengan proporsi 15:75:15

Sebelum membentuk tim terbaik, kamu perlu mempelajari kurva belajar S . Praktik yang disarankan oleh pakar dan konsultan manajemen, Whitney Johnson ini akan membantumu menggambarkan fase pembelajaran yang dialami oleh orang-orang dalam tim.

Tiap perusahaan memiliki sekumpulan orang dengan kurva belajar yang berbeda-beda. Secara sederhana, kurva belajar S mendeskripsikan tiga tingkatan anggota tim berdasarkan pengalaman dan penguasaannya terhadap suatu bidang:

Low-end, merupakan sekelompok anggota tim dengan pengalaman yang minim dan keahlian yang belum terasah. Umumnya, mereka adalah lulusan baru yang sedang mulai mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya. Idealnya, orang-orang dalam level ini mengisi lima belas persen ruang dalam tim.

Middle, merupakan bagian sweet spot berisi anggota tim yang telah menekuni bidang pekerjaan selama enam bulan hingga satu tahun lamanya. Karena mereka telah cukup mendalami bidang tersebut, produktivitas mereka pun paling tinggi dibandingkan level Low-end dan High-end. Untuk mendapatkan tim terbaik, sebuah tim setidaknya harus berisi 75 persen orang yang telah mencapai level ini.

• High-end, merupakan sebagian anggota tim yang telah mahir dalam bidang pekerjaannya. Namun, mereka juga rentan merasa bosan karena tidak menemukan hal baru. Whitney Johnson merekomendasikan lima belas persen tim merupakan anggota High-end.

Mempersiapkan kultur belajar bagi anggota tim

Seiring dengan generasi milenial yang kini mulai mendominasi jumlah karyawan di Indonesia , kamu perlu mempertimbangkan strategi yang cermat dalam membentuk A-team kamu. Dalam laporan survei Deloitte terhadap milenial , stigma buruk telah melekat pada generasi ini–salah satunya, sering dianggap kutu loncat . Namun, sebuah riset dari Oracle menyebutkan bahwa generasi ini menghargai value berupa pembelajaran dan pelatihan .

Membangun tim terbaik sesuai dengan kurva S, akan memudahkan kamu dalam mengembangkan produk dengan keterlibatan yang penuh dari seluruh anggota tim. Selanjutnya, tiga tip ini dapat kamu pelajari untuk setiap level anggota tim kamu:

• Untuk mereka yang berada di tahap Low-end, kamu dapat memberikan tantangan baru dan target yang lebih tinggi untuk mempercepat peralihan dari tahap awal menuju sweet spot.

• Sekelompok orang yang berada di sweet spot diibaratkan sebagai inti dalam sebuah tim. Oleh karena itu, kamu perlu menuntut mereka untuk beraksi dan mewujudkan tujuan.

• Orang-orang yang termasuk dalam tahap High-end memerlukan lebih banyak ruang, agar mereka tetap dapat berkontribusi, misalnya: sesi sharing dalam tim–sehingga mereka dapat membagikan pengalaman dan pandangan mereka kepada anggota tim lainnya.

Borries di salah satu stage Product Development Conference 2018.

Memperhatikan kemauan tim

Selain memperkenalkan kurva S, Borries juga membagikan pengalamannya dalam mengakomodasi tim HappyFresh. Untuk mewujudkan A-team yang ideal, ia menerapkan beberapa perlakuan berikut:

Low-end

• Mengalokasikan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dan berkomunikasi.

• Memberikan kesempatan untuk mengemukakan inovasi dan perspektif mereka.

Middle

• Menerapkan jalur perkembangan karier bersifat gamified. Misalnya, proses peralihan peran dari Analyst ke Associate dalam waktu enam bulan mengharuskan mereka untuk mengumpulkan lima belas poin dari berbagai tugas yang mereka kerjakan.

• Manajer bersama anggota tim mendiskusikan bidang apa saja yang akan disertakan dalam poin kinerja.

High-end

• Membuka peluang untuk mobilitas internal, misalnya memberi kesempatan kepada desainer grafis untuk berpindah ke posisi product designer.

• Menugaskan mereka untuk aktif dalam proyek bisnis baru.

Itulah beberapa tip dan best practice manajemen A-team yang diterapkan oleh Borries di HappyFresh. Mau lebih banyak best practice terkait product leadership dan product development ? Jangan khawatir, karena Product Development Conference (#TIAPDC2019) akan kembali hadir pada 3 dan 4 Juli 2019 mendatang.

Di Product Development Conference 2019, kamu bisa mendapatkan banyak insight terkini dari para praktisi pengembangan produk. Berbagai topik mengenai mengenai product development bisa kamu temukan dalam sembilan track menarik, yaitu: Product Design, User Experience, Infrastructure, Engineering, Product Marketing, Data & Analytics, Product Management, Product Leadership, dan Technology in Focus.

Saat ini, kamu sudah bisa mendapatkan tiket #TIAPDC2019 dengan harga promo mulai dari Rp299.000 saja. Promo ini hanya berlaku sampai 17 Maret 2019 pukul 23.59 WIB .

Jangan lupa ajak teman-teman kamu untuk membeli Group Ticket , untuk mendapatkan harga paling menarik ini, ya!

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

LIHAT ARTIKEL ASLIBaca di App KurioBACA SELENGKAPNYABaca di App Kurio

Leave a comment