Kisah Anak Muda yang Beruntung (Lucky) Lewat Jam Tangan Daur Ulang

Kisah Anak Muda yang Beruntung (Lucky) Lewat Jam Tangan Daur Ulang

Kalau ada yang bilang menjadi pengusaha harus belajar di kampus lalu di tempa dengan teori A,B,C dahulu, maka berbeda dengan pemuda satu ini. Namanya Lucky Aria membuktikan kalau nggak harus kuliah, kuta juga dapat menjadi sukses. Bukan berarti Ia menyarankan Sobat Studentprneur untuk tidak kuliah, namun ia menginginkan bagi orang merasakan bangku kuliah mungkin dapat lebih sukses darinya.

Awal mula ceritanya, Lucky sempat tiga kali berpindah-pindah kampus sampai akhirnya putus kuliah. Pria yang sudah mengembangkan jam tangan kayu ini dibilang sukses karna tidak hanya dalam negeri yang menggunakan produknya, namun saat ini hingga keluar negeri.

Dari sepotong limbah kayu, pria yang sering dipanggil dengan Uuk ini menyulapnya menjadi sebuah jam tangan ekslusif bernama Matoa.

Uuk mendapatkan inspirasi dari waktu ia kecil. Uuk kecil gemar sekali bermain, namun sang ibu sering mengingatkan untuk walaupun senang bermain, ia harus memiliki uang yang cukup untuk mengisi pundi-pundinya kelak.

Kesuksesan Matoa tidak instant. Uuk memulai usahanya dari nol. Ia memulai dengan berjualan handphone, untuk memutar uang jajan sehari-hari saat waktu sekolah. "Lumayan dengan muterin Hp, aku sempet dicap anak gaul karna gonta-ganti HP," tegas Lucky.

Dari bisnis muterin handphone, Uuk memiliki beberapa karyawan yang ia kerjakan. Ia mengaku bukan passionnya untuk berjualan. Namun ia mengaku bahwa semua ini mengalir saja, terlintas mau jualan Hp saat itu ia langsung eksekusi.

Setelah bisnis handphone, lucky sempat berbisnis lain namun ia mengalami jatuh bangun dan karena ini membuat pemuda yang pernah menjajal DJ (Disc Jokey) semakin besar rasa keingintahuannya.

Uuk sempat jadi karyawan Public Relation, hingga menjabat menjadi head marketing communication. Dan disana ia belajar tentang ilmu marketing, public relation, dan leadership.

Tepat setelah 4 tahun berkarir dengan menduduki posisi head marketing communication mengkoordinir 400 orang, Uuk memutuskan resign dari perusahaan yang membesarkannya.

Menjadi Gila

Dengan pengalaman bisnis yang telah ditimpa dengan keadaan saat kecil dan pondasi yang kuat dari bekerja di perusahaan orang, akhirnya Uuk memutuskan impiannya untuk menjadi seorang entrepreneur di bawah bendera Matoa.

Bukan perkara mudah untuk mengubah ide menjadi kenyataan. Uuk malah dikira menjadi gila oleh kawan-kawan karena sharing ide ini tetapi yang dilakukannya malah cuek saja. Berbisnis bukan cerita buka sesuatu dan berharap langsung laku, namun yang dilakukan Uuk mencoba riset dahulu. Ia merasa karena di Indonesia ini belum ada yang memproduksi jam tangan yang persis dengan idenya dan ia butuh usaha keras untuk mencari vendor yang tepat hingga bahan yang akan dipakainya juga.

Dan sekitar satu tahun melakukan riset dan melakukan blusukan kemana-mana. Akhirnya ia menemukan limbah kayu yang cocok yaitu mahony dan ebony.

Bahan baku selesai, produksi seudah dihandle oleh vendor yang cocok, tugas selanjutnya adalah bagaimana mempromosilan produk Matoa kepada masyarakat. Uuk mencoba mempromosikan dengan kreatif, ia memilih Word of Mouth atau MLM (mulut lewat mulut, red) untuk memasarkan produknya.

Strategi pendukungnya, Uuk memanfaatkan jaringan pemerintah dengan ikut aktifitas Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Strategi ini mendaptkan hasil seperti pameran dalam dan luar negeri dan juga mendapatkan peghargaan di beberapa kompetisi.

Dari strategi yang dilakukannya, produk Matoa akhirnya telah didistribusikan ke beberapa negara seperti Kanada, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Dubai.

Nama Matoa bagi Uuk lebih dari sekedar merk. Matoa merupakan bisnis, jam, dan definisi waktu yang sudah ia lalui. Bagi uuk, Matoa bukanlah tujuan akhir perjalanan, melainkan awal dari semua yang dilaluinya. Masih ada mimpi supaya produk Matoa bisa masuk ke negara pendahulunya, Amerika dan bersaing dengan merk lainnya.

LIHAT ARTIKEL ASLIBaca di App KurioBACA SELENGKAPNYABaca di App Kurio

Leave a comment