Belajar Startup Digital Bersama CEO Muda Tyovan Ari

Belajar Startup Digital Bersama CEO Muda Tyovan Ari

Di usia yang masih tergolong sangat muda, Tyovan Ari telah membangun sejumlah startup sukses yang berambisi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Salah satunya adalah Bahaso yang bertujuan mendongkrak pembelajaran bahasa asing. Berbekal pengalaman yang kaya dan sudut pandang unik generasi muda Indonesia, Tyovan Ari bicara tentang tantangan-tantangan yang dihadapi startup lokal dan prediksinya untuk sektor tersebut di masa depan.

Setujukah Anda dengan pandangan bahwa startup identik dengan dan mungkin hanya cocok untuk kaum milenial dan profesional muda?

Menurut saya menurut saya generasi lebih tua juga bisa memulai karier di dunia startup. Semua orang punya kesempatan yang sama. Bedanya generasi milenial punya waktu dan kesempatan lebih banyak untuk mengeksplorasi peluang di luar. Sementara, generasi lebih tua mungkin sudah berkeluarga dan punya banyak hal lain yang perlu dipikirkan. Karena itu di banyak startup kita melihat rata-rata staf yang masih muda, yang masih fresh, yang fokusnya masih hanya di kariernya.

Saya sering bilang ke teman-teman, kalau mereka mau memulai sebuah startup, mulailah sedini mungkin. Karena masa-masa mencicipi kegagalan itu sebaiknya dirasakan ketika masih muda. Karena itu, ketika masih muda, jangan takut untuk mengambil risiko.

Apa Anda pribadi akan mendukung mereka yang masih bersekolah untuk meniru jalan karier Anda dan memulai bisnis di usia tersebut?

Saya sangat mendukung generasi muda yang ingin merintis bisnis, tapi yang selalu saya tekankan adalah kalau mau memulai bisnis atau usaha, jangan jadikan kekayaan sebagai target. Karena jika mereka menjadikan materi sebagai tujuan, bisa jadi suatu hari mereka akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Jika apa yang mereka lakukan bukan untuk kebaikan orang-orang sekitar atau untuk menjawab suatu permasalahan, ya, tidak ada artinya.

Tech startup kini telah masuk ke berbagai aspek dalam hidup. Contohnya, Gojek dan transportasi, Bahaso dan proses belajar bahasa asing. Menurut Anda, ke arah mana lagi tech startup akan berkembang?

Perkembangan tech startup di Indonesia itu masih tergolong berada di tahap awal dan kesempatan di depan masih sangat besar. 10 tahun lagi mungkin baru bisa benar-benar terasa pengaruh luar biasa dari sektor ini. Ke depannya, saya rasa semua lini kehidupan akan bersandar pada teknologi. Sekarang saja, hal sekecil seperti mencari makanan, mencari tempat tinggal juga menggunakan teknologi. Karena itu, ke depannya peluangnya akan sangat besar.

Bagaimana dengan sebaliknya? Apakah Anda rasa ada aspek hidup yang tidak akan atau sulit tersentuh teknologi terutama di Indonesia?

Kalau di Indonesia, sebetulnya semua bidang bisa disentuh teknologi, bahkan yang kesannya sulit, seperti politik. Tapi menurut saya, kadang teknologi ini menghilangkan kontak dan kedekatan antar manusia, jadi teknologi tidak akan bisa menggantikan itu. Mungkin teknologi bisa meningkatkan kualitas komunikasi sebagai sarana penghubung, tapi hubungan interpersonal itu sendiri tidak akan tergantikan. Rasanya tetap akan beda.

Apa saja tantangan yang dihadapi komunitas startup secara umum di Indonesia dan apa yang bisa mereka dan pemerintah lakukan untuk menghadapinya?

Saat ini kita bersaing dengan startup-startup dari luar negeri. Di aspek ini, peran pemerintah seharusnya mendukung perkembangan industri lokal baik melalui insentif dan program-program, atau dukungan berupa regulasi.

Kalau kami di Bahaso dan pelaku startup lokal lebih sering terbentur masalah infrastruktur, misalnya jaringan di Indonesia kurang merata dan masih terfokus di pulau Jawa dan kota-kota besar. Bahkan di Jawa sendiri, pembangunan jaringannya masih tidak tersebar rata. Masih ada saja yang sinyalnya masih menggunakan GPRS.

Kompetisi memang merupakan salah satu tantangan, tapi bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pecut untuk memacu kita agar bisa bersaing lebih baik. Untuk hal ini, soal regulasi bisa diperbaiki lagi agar persaingannya adil dan sehat.

Bahaso punya misi untuk mengedukasi masyarakat terkait pembelajaran bahasa asing. Apa ada taktik khusus untuk menjangkau masyarakat lebih luas seperti di desa-desa?

Kita memang akan fokus dulu di daerah dengan koneksi lebih baik. Di tahap awal kita akan terlebih dulu masuk ke kota-kota besar, lalu perlahan masuk ke desa-desa yang sudah punya infrastruktur memadai. Selain online, Bahaso juga punya komunitas offline yang bertemu dan berinteraksi untuk praktek setiap minggu. Itu salah satu cara kita untuk menjangkau lebih banyak pengguna.

Dengan pencapaian Anda sendiri sebagai contoh, apakah ini berarti siapa saja bisa membangun startup? Atau menurut Anda ada kriteria individu tertentu yang bisa sukses di bidang ini?

Semua orang punya kesempatan yang sama untuk membangun start up. Bedanya adalah siapa yang berani memulai dan mengambil risiko yang akan meraih kesempatan tersebut. Banyak juga anak muda yang takut mengambil risiko, takut gagal, terlalu banyak berpikir, sehingga sulit mengambil langkah awal. Padahal ketakutan-ketakutan ini adalah penyakit yang bisa dihilangkan. Caranya? Misalnya seperti saya, harus memiliki tujuan hidup selain mengejar materi. Asal penghasilan cukup untuk keluarga dan kebutuhan sendiri, dan bisa menjalankan apa yang saya yakini, tidak ada lagi yang perlu ditakuti.

Hidup seseorang kadang bisa berada di atas dan bisa di bawah. Ketika di atas maupun di bawah, apapun harus disyukuri. Soal punya uang atau tidak bukan lagi sebuah masalah, asal apa yang saya lakukan bisa memberi imbas positif pada orang-orang di sekeliling saya.–Qerja.com

LIHAT ARTIKEL ASLIBaca di App KurioBACA SELENGKAPNYABaca di App Kurio

Translate »