Startup Dialogue Series, Upaya Bolt Dukung Ekosistem Usaha Rintisan

Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

Indonesia merupakan negara peringkat ketiga dunia jumlah usaha rintisan atau startup. Ini menurut data Startuprangking.com, yang mencatat hingga saat ini jumlah startup di Indonesia 1.433, di bawah India yang berada di posisi kedua dengan jumlah startup 3.438 dan Amerika berada di posisi teratas dengan jumlah 8.517 startup. Perbedaan posisi kedua dan ketiga hampir separuhnya. Ini menunjukkan, perlunya dukungan agar usaha rintisan di Indonesia tumbuh lebih cepat lagi. Bukan saja dari segi kuantitas tapi juga kualitas. Inilah yang mendorong Bolt bersama Tempo mengadakan Startup Dialogue Series. Salah satunya yang baru saja diadakan yaitu di Universitas Atmajaya Jakarta. Yansen Kamto, CEO Kibar, yang menjadi salah satu narasumber saat itu mengamini bahwa tumbuh pesatnya startup dan kreativitas yang ada didalamnya, itu jika ekosistem terbangun dengan baik. Ia mencontohkan, salah satu daerah yang memberikan dukungan kuat pada startup adalah Surabaya. Salah satunya dengan menyediakan coworking space. “Bu Risma bukan saja menyediakan tempat, tapi juga rajin datang dan memberikan feedback pada para startup. Ekosistem bisa berkembang dengan baik juga dibutuhkan dukungan kampus, masyarakay, komunitas, dan juga dukungan pemerintah,” jelas Yansen. Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya, yang hadir sebagai salah satu pembicara mengatakan sebagai pebisnis pemula, jangan pernah takut mencoba. “Jangan takut, coba dan tanya. Tapi sebagai anak muda juga harus terbuka pada masukan,” tegasnya. Danny Anwar, Pemilik The Warna Indonesia, usaha rintisan yang bergerak dibidang sepatu khas kain-kain Indonesia yang juga pembicara lain di acara ini mengungkapkan sebagai pelaku bisnis baru pasang surut pernah dirasakannya. “Kuncinya terus berupaya mencari jalan dan tidak lelah berkreasi,” tambahnya. Ia mengungkapkan sukses usahanya dimulai sejak mulai menggaet ibu-ibu sebagai reseller usahanya. Dari hanya menjual 100 pasang per bulan menjadi 3500 pasang sepatu. Menggaet para ibu ternyata efektif. Mereka, menurut Danny, semangat berjualan karena ingin mendapat uang lebih di luar uang belanja yang diberikan para suami mereka. “Makanya, saya membuat sistem reseller yang baik yang kami sebut The Warna Academy, agar para ibu ini terbantu juga bagaimana jualan secara online. Saya ajari mereka bagaimana mengambil foto yang bagus, meng-up load-nya di internet, kapan waktu terbaik up load agar banyak yang melihat dan sebagainya,” jelas Denny. Saat ini ada 200 reseller yang tergabung di The Warna Indonesia. Selain membuat produk merek sendiri, Denny sebelumnya membuat sepatu pesanan sepatu dari Malaysia, Singapura dan merek-merek lain Indonesia. Head of Product Bolt, Angkasa Perdana Putra, mengatakan bisnis rintisan saat ini tidak bisa terlepas dari internet agar jangkauan pasarnya bisa lebih luas. “Startup Dialogue Series merupakan cara kami mendukung membangun ekosistem startup di Indonesia. Kami sendiri belum sampai melakukan pembinaan startup. Tapi melalui acara ini bisa menjadi kesempatan berbagi pengalaman antara pelaku industri di sektor teknologi dengan anak-anak muda, guna mendorong gairah dan perkembangan industri digital di Indonesia,” jelas pria yang akrab disapa Angki ini. Angki mengakui, melihat angka startup di Indonesia tersebut memang potensi di sana sangat besar. Namun hingga saat ini pihaknya belum memiliki program atau paket khusus untuk startup. “Mereka ini sensitif harga. Bolt punya paket residensial yang kami pikir cukup murah buat usaha baru, dengan harga mulai Rp 399 per bulan dengan 19 Mbps unlimeted tidak ada batasan kuota,” tuturnya. Saat ini memang belum besar pengguna residensial Bolt, jumlahnya baru puluhan ribu. Namun kedepan dengan makin bertumbuhnya usaha rintisan ini, diharapkan jumlahnya bisa lebih besar lagi. Sayang Angki belum mau menyebut targetnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.

Leave a comment